Sabtu, 20 Oktober 2012

Menghitung Efisiensi PG Wonolangan Probolinggo

  • Formula Hitungan Efisiensi Produksi 
Metode ISSCT (International Society of Sugar Cane Technologists)
§  Mill Extraction (ME)                    =  Ton Pol Nira Mentah    x 100%
                                                             Ton Pol Tebu

§  Boiling House Recovery (BHR) =      Ton Pol GKP           x 100%
                                                      Ton Pol Nira Mentah

§  Overall Recovery (OR)                 = ME  x  BHR  x  100%

Efisiensi Produksi          
            Efisiensi Produksi adalah kemampuan menghasilkan output pada suatu tingkat kualitas tertentu dengan biaya yang lebih rendah. Menurut P3GI (1997), salah satu langkah yang perlu ditempuh dalam pembangunan industri gula adalah melalui peningkatan efisiensi pabrik gula. Faktor-faktor yang menyebabkan rendahnya efisiensi pabrik gula adalah : (1) pabrik yang sudah tua, (2) hari giling yang belum optimal, (3) kapasitas giling yang kurang dari 2.000 ton tebu per hari dan (4) jam berhenti giling yang tinggi. Sementara menurut Sekretariat Dewan Gula Indonesia (2001), kendala utama yang dihadapi pabrik gula saat ini adalah : (1) rendahnya kualitas bahan baku, (2) rendahnya kapasitas sebagian pabrik serta rendahnya efisiensi pabrik (tingginya jam berhenti dan (3) tingginya biaya produksi
            Menurut P3GI (1997), terdapat lima kriteria pokok yang dapat dijadikan pedoman awal untuk menentukan tidak efisiennya suatu pabrik gula, yaitu :
1. Kesulitan memperoleh lahan.
2. Pengembangan lahan tebu mengarah ke lahan kering sehingga biaya angkut tebu meningkat.
3. Jumlah produksi gula kurang dari 250.000 kwintal per tahun, sehingga harga pokok per unit hasil
   masih mahal.
4. Mutu bahan baku belum optimal sehingga biaya produksi pabrik gula tidak efisien.
5. Kapasitas giling masih banyak yang dibawah 2000 ton tebu per hari.

Berdasarkan lima kriteria pokok tersebut terdapat indikasi bahwa efisiensi pabrik gula Indonesia masih rendah khususnya pabrik gula milik BUMN yang dapat disebabkan karena biaya produksi gula belum efisien (Sekretariat Dewan Gula Indonesia, 1997). Dari kelima kriteria tersebut PG Wonolangan temasuk dalam pabrik gula yang belum cukup memenuhi kriteria efisien. Selain dengan kriteria tersebut, efisiensi produksi dapat diketahui dengan melakukan perhitungan efisiensi pabrik.

Dalam proses ekstraksi dan kristalisasi sukrosa di PG yang kemudian menghasilkan gula pasir dibutuhkan
suatu parameter yang bisa dijadikan ukuran apakah proses tersebut sudah berjalan dengan baik atau belum. Secara keseluruhan ukuran yang digunakan disebut overall recovery (OR). OR ini mencerminkan efisiensi PG karena menggambarkan jumlah gula yang bisa diperoleh dari tebu. Overall recovery merupakan hasil kerja gabungan antara stasiun gilingan dengan stasiun pengolahan. Hasil kerja stasiun gilingan sebagaimana dijelaskan sebelumnya dinyatakan dalam mill extraction (ME), yang menggambarkan persentase gula yang berhasil dieks­traksi dalam nira mentah terhadap gula yang terkandung di dalam tebu. Hasil kerja stasiun pengolahan dinyatakan dalam boiling house recovery (BHR) yang mencerminkan persentase gula riil yang diperoleh terhadap gula yang berada dalam nira mentah.  Data pengawasan pabrik dipakai untuk mengetahui gambaran tentang jumlah gula yang masuk, yang dihasilkan, serta yang hilang dalam proses. Pada dasarnya terdapat dua macam metode perhitungan efisiensi pabrik, yaitu dengan metode jawa yang berdasarkan pada nilai brix, dan metode ISSCT (International Society of Sugar Cane Technologists) yang berdasarkan pada nilai pol.

Adapun perbedaan antara brix dan pol yaitu, brix diartikan sebagai zat padat terlarut, sedangkan pol merupakan sukrosa terlarut. Brix adalah jumlah zat padat semu yang larut (dalam gr) setiap 100 gr larutan. Jadi misalnya brix nira = 16, artinya bahwa dari 100 gram nira, 16 gram merupakan zat padat terlarut dan 84 gram adalah air. Derajat pol atau pol adalah jumlah gula (dalam gram) yang ada dalam setiap 100 gram larutan yang diperoleh dari pengukuran dengan menggunakan polarimeter secara langsung. Jadi menurut pengertian ini jika pol nira = 15, berarti dalam 100 gram larutan nira terdapat gula 15 gram. Selebihnya 85 gram adalah air dan zat terlarut bukan gula. 
Dengan menggunakan metode ISSCT, perhitungan nilai efisiensi diperoleh dari data pengawasan pabrik pada periode ketiga masa giling (lampiran 3). Dari nilai tersebut diperoleh nilai ME sebesar 92,6%, BHR 78,73% dan OR sebesar 72,9% pada data sampai dengan periode ketiga 2012. Nilai ini mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya, 2011, dimana diperoleh nilai ME 92,2%, BHR 76,43%, dan OR 70,46%. Artinya efisiensi PG Wonolangan mengalami peningkatan. Namun dipandang dari nilai standar yang ada (pada tabel), nilai efisiensi PG wonolangan masih berada di bawah nilai efisiensi normal.

Kehilangan gula dapat diketahui dari neraca pol pada data pengawasan pabrik. Sebelum dilakukan upaya menekan kehilangan gula di pabrik, maka perlu diketahui terlebih dahulu pos-pos kehilangan yang mungkin terjadi di pabrik. Secara garis besar terdapat 3 katagori kehilangan gula, yaitu : (1) Kehilangan diketahui, (2) Kehilangan tak diketahui dan (3) Kehilangan tersembunyi. Kehilangan diketahui adalah kehilangan gula yang terjadi dalam proses pabrikasi, yang jumlahnya diketahui karena terukur. Sebagai contoh: kehilangan dalam ampas, blotong dan tetes. Kehilangan dalam tetes merupakan kehilangan terbesar dalam proses pembuatan gula, namun sebagian gula yang hilang masih dapat dikembalikan melalui nilai jual tetes. Kehilangan gula dalam ampas merupakan kehilangan besar kedua karena jumlahnya (bobot ampas) besar, yaitu ampas % tebu sekitar 30-40 %. Kehilangan tak diketahui adalah kehilangan yang jumlahnya tak terukur walaupun penyebabnya diketahui. Menurut penyebabnya, kehilangan tak diketahui dibedakan menjadi : (1) Kehilangan mekanis yaitu kehilangan yang terjadi karena, secara fisik gula keluar dari sistem proses pabrikasi, misalnya karena tumpah/luber, percikan dan lain-lain. (2) Kehilangan khemis yaitu karena, sukrosa berubah menjadi senyawa lain akibat hidrolisis atau dekomposisi. (3) Kehilangan semu, bukan kehilangan sebenarnya, namun terjadi karena kesalahan dalam penimbangan , analisis atau estimasi produk antara. Kehilangan tersembunyi lebih banyak terjadi di sektor tebang angkut, misalnya: penebangan tebu yang belum masak, kerusakan tebu (cane deterioration), inversi dan lain-lain. Kehilangan ini jarang diperhitungkan orang, namun menurut beberapa hasil penelitian angkanya berkisar antara 10-25 % sukrosa yang tersedia dalam batang tebu.

Derajat polarisasi atau pol adalah jumlah gula (dalam gram) yang ada dalam setiap 100 gram larutan yang diperoleh dari pengukuran dengan menggunakan polarimeter secara langsung. Dengan menggunakan neraca pol maka kehilangan gula selama proses dapat diketahui melalui pengurangan antara pol dalam nira mentah dengan jumlah dari pol dalam blotong, tetes, hasil gula+sisan, dan jumlah pol perkiraaan. Dari data pengawasan pabrik mengenai neraca pol (terlapir), diketahui jumlah kehilangan gula yang diketahui selama proses  pada periode ketiga masa giling sebesar 33,8 ton pol. Untuk mengkonversi dari ton pol ke satuan ton maka nilai tersebut dikalikan dengan nilai Boiling House Recovery (BHR) dari periode tersebut yaitu sebesar 84,2% sehingga ton gula yang hilang dalam proses sebanyak 28,46 ton (per 15 hari). Kehilangan ini sekitar 1,49% dari gula SHS yang dihasilkan.

Terdapat dua hal yang sangat mempengaruhi efisiensi produksi pabrik tebu yang sangat berkaitan dengan rendemen, yaitu pertama adalah tergantung pada mutu budidaya pasca panen, dan kedua tergantung pada kinerja pabrik (Prawirosemadi, 2011). Sehingga untuk menekan nilai kehilangan pada pabrik gula serta meningkatkan nilai efisiensi produksinya, maka diperlukan peningkatan pada aspek
on farm serta off farm dari produksi gula. Pada aspek pasca panen sangat dipengaruhi oleh baik buruknya perlakuan tebang tebu, penundaan giling, hingga kandungan kotoran dalam tebu. Kotoran dalam tebu selain mempengaruhi rendemen tebu, juga dapat berpengaruh pada keadaan mesin serta efisiensinya. Semakin tinggi kadar kotoran tebu, maka rendemen semakin rendah serta proses produksi kurang maksimal, dan mengakibatkan pada berkurangnya efisiensi produksi. Kinerja pabrik juga mempengaruhi pada tingkat efisiensi produksi. Misalnya keadaan mesin yang terlalu tua akan menurunkan kualitas produksi yang dapat menurunkan efisiensinya. Peningkatan kapasitas giling dengan memperhatikan keadaan mesin juga sangat diperlukan dalam meningkatkan efisiensi pabrik. 

Jumat, 19 Oktober 2012

Sayang seribu sayang #*%$@#

Aku pernah terjebak lagi di lubang yang sama
bodoh, itulah sebutannya,
Tapi mungkin ini juga pelajaran...
dia mengajarkanku tentang arti tegas sebenarnya, sampai aku tau apa itu profesional dalam berorganisasi.
Tapi miris, dia juga yang membuatku masuk dalam kebusukannya...
Tak hanya memaksa, rayuan dan rintihan yang ia tawarankan untuk masuk dalam duniaku dan mengenalku kian dekat dengan membawa label organisasi....
Pacar???
Itu juga yang dia pernah tawarankan untuk lebih banyak merenggut semua dariku...
dengan sadar dan seribu macam alasan, ku tampis mentah2...
Benar saja,
dia mulai berbeda, tak punya lagi perasaan memahami, sampai buat aku siksa akan tanggungjawab yang belum sempat terlepas di organisasi...
Lagi-lagi organisasi, inilah yang mengajariku apa arti tanggungjawab sebenarnya, hingga kian lama ku mengerti makna orang lebih dalam...
Makna orang yang ingin (dengan sadar atau tidak) Pelan2 merenggut semua Prinsipku...
Maaf saja, anda memang berduit, anda memang slalu ingin dihargai dengan kewibawaan anda,
Tapi sayang, seribu sayang, sama sekali anda tak memahami arti agama dalam hal memahami kedekatan dengan wanita,,,
Sayang seribu sayang anda mengajari saya kebusukan anda sendiri...
dan sayang seribu sayang,....
Kini ucapan anda tak ubahnya bagaikan kicauan burung yang berlalu begitu saja...
Cukup, cukup sudah saya masuk sebentar untuk bertamu di kehidupan anda,
hanya untuk meniggalkan pesan,
Pesan yang smoga anda slalu mengingatnya. dan untuk memahaminya...
Bahwa saya bukan wanita buruk yang anda samakan  dengan yang lain,
Memaknai pacaran dengan saling sentuh atau yang sama halnya dengan zina dalam apapun bentuknya...
Selebihnya hanyalah do'a....
smoga kita menjadi jauh lebih baik dalam memaknai arti syukur...
Syukur untuk memendam rasa bahkan nafsu untuk ini,
Syukur untuk menanti suatu saat di kemudian hari,
yang lebih indah,
Bertemu dengan orang yang benar2 untuk kita...
=D

Sabtu, 22 September 2012

Huwannur (Mayada)


Huwan nuruu yahdil hairiina dhiyauhu
wafil hasri zhillul mursaliina liwauhu
talaqqo minal ghoibil mujarrodi hikmata
biha amthorot fiil hoofiqoini samaauhu

Huwan nuruu yahdil hairiina dhiyauhu
wafil hasri zhillul mursaliina liwauhu
talaqqo minal ghoibil mujarrodi hikmata
biha amthorot fiil hoofiqoini samaauhu
biha amthorot fiil hoofiqoini samaauhu

wa mashudu ahlil haqqi mihu lathooifun
tuhobbiru annal majda wassyaawasyaauhu
falillahi ma lil'aini min mashadijtilaa
ya'izzu 'alaa ahlil hijabij tilauhu

Huwan nuruu yahdil hairiina dhiyauhu
wafil hasri zhillul mursaliina liwauhu
talaqqo minal ghoibil mujarrodi hikmata
biha amthorot fiil khoofiqoini samaauhu

aya nazihan 'annii wamaskanuhul hasaa
ajib man malaa kullan nawaahii nidahu
ajib man tawallalahul hawaa fiika wamdhi fii
fuadiiya maa yahwaal hawaa wa yasaauhu

Huwan nuruu yahdil hairiina dhiyauhu
wafil hasri zhillul mursaliina liwauhu
talaqqo minal ghoibil mujarrodi hikmata
biha amthorot fiil khoofiqoini samaauhu


Faya robbi syarrifni birukyati sayyidi
Wa ajib shodal qolbiyl katsiri Shodauhu
alaihi sholatullahi ma habbatisshoba
wama athrobal hadi fathoba hidauhu

Huwan nuruu yahdil hairiina dhiyauhu
wafil hasri zhillul mursaliina liwauhu
talaqqo minal ghoibil mujarrodi hikmata
biha amthorot fiil khoofiqoini samaauhu

Jumat, 21 September 2012

Bioetanol Berbasis Kulit Ubi Kayu




Kebutuhan energi baik fosil maupun non fosil dari tahun ke tahun semakin meningkat. Peningkatan ini sejalan dengan meningkatnya laju pertumbuhan ekonomi, laju pertumbuhan penduduk, dan pesatnya perkembangan sektor industri. Energi dari bahan tambang seperti minyak bumi dan gas bumi khususnya di Indonesia diperkirakan akan habis dalam waktu yang relatif singkat. Sehingga Indonesia harus segera mencari sumber energi yang dapat diperbaharui (Renewable Energy) untuk memenuhi kebutuhan energi di masa depan.
Bioetanol (C2H5OH) merupakan salah satu bahan bakar nabati yang saat ini menjadi primadona untuk menggantikan minyak bumi. Minyak bumi saat ini harganya semakin meningkat, selain kurang ramah lingkungan juga termasuk sumber daya yang tidak dapat diperbaharui. Bioetanol mempunyai kelebihan selain ramah lingkungan, penggunaannya sebagai campuran BBM terbukti dapat mengurangi emisi karbon monoksida dan asap lainnya dari kendaraan. Saat ini bioetanol juga bisa dijadikan pengganti bahan bakar minyak tanah. Selain hemat, pembuatannya dapat dilakukan di rumah dengan mudah, sehingga lebih ekonomis dibandingkan menggunakan minyak tanah.
Ubi kayu merupakan salah satu komoditi pertanian yang tersebar di berbagai wilayah. Indonesia.    Pemanfaatan limbah kulit ubi kayu yang cukup potensial dan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat yaitu sebagai bahan baku pembuatan bioetanol. Dalam hal ini yang dimanfaatkan adalah kulit ubi kayu bagian dalam yang berwarna putih. Kulit ubi kayu ini memiliki kandungan karbohidrat yang tinggi. Presentase jumlah limbah kulit bagian luar sebesar 0,5-2% dari berat total ubi kayu segar dan limbah kulit bagian dalam sebesar 8-15%. Kulit ubi kayu bagian dalam mengandung pati yang dapat dihidrolisis menjadi gula dan diproses menjadi bioetanol.
Untuk melakukan hidrolisis gula pada pati kulit ubi kayu, perlu ditambahkan enzim atau dengan bantuan asam. Umumnya rendemen bioetanol yang diperoleh cukup rendah. Hal inilah yang mendorong perlunya peningkatan rendemen bioetanol berbasis kulit ubi kayu melalui penggunaan konsorsium enzim.  


Adapun penelitian yang dilakukan membutuhkan metode berikut: 
  • Pembuatan Tepung Kulit Ubi kayu
            Terlebih dahulu, kulit ubi kayu dipisahkan dari kulit paling luar. Setelah itu, kulit direndam dalam air selama 30 menit, lalu tiriskan. Kemudian, kulit ubi kayu tersebut digiling dengan menggunakan mesin penggiling hingga menjadi butiran-butiran tepung. Tepung yang dihasilkan kemudian dianalisa untuk mengetahui karakteristik bahan baku yang meliputi analisis kadar air, lemak, protein, pati, abu, selulosa, hemiselulosa dan serat kasar (AOAC 2005).

  • Hidrolisis Fermentasi Terpisah
Proses hidrolisis fermentasi terpisah meliputi tahap likuifikasi, sakarifikasi dan fermentasi, dimana setiap tahapan dilakukan secara terpisah pada kondisi dan wadah yang berbeda. Proses likuifikasi dilakukan secara enzimatis dengan α-amilase selama 1 jam pada suhu 90 oC, pH 4,8. Tepung ubi kayu dilarutkan dengan  akuades sampai konsentrasi 30 % (b/v) kemudian dipanaskan sampai suhu 90 oC sehingga terbentuk bubur kental. Untuk mencairkan bubur, ditambahkan enzim α-amilase dengan konsentrasi 1 ml/kg pati. Substrat hasil likuifikasi diatur pH-nya menjadi 5,0 dengan menambahkan HCl 1 N. Setelah likuifikasi, dilakukan proses sakarifikasi secara enzimatis menggunakan AMG, xilanase dan selulase dengan konsentrasi 1,2 ml/kg pati selama 48 jam pada pH 4,8. Hasil proses sakarifikasi selanjutnya dipergunakan sebagai substrat fermentasi. Substrat terlebih dahulu diatur pH-nya menjadi 5,0 menggunakan HCl 1 N dan ditambahkan nutrisi berupa NPK dan NH2(S0)4 masing-masing dengan konsentrasi 0,04 % (b/v) dan 0,15 % (b/v), kemudian kultur S.cerevisiae ditambahkan 10 % (v/v). Setelah itu, diukur kadar ethanolnya dengan menggunakan Gas Chromatography.  Lalu untuk memisahkan ethanol dengan cairan lainnya, dilakukan destilasi sederhana. 

PKM Penelitian
(Nur Astri Mufthia S., Lisa Silvia, Nur Faizah, Mulia Wita, Ahmad Muhaimin)

Rabu, 29 Agustus 2012

Press release Halal Bi Halal dan Reuni FKMB Alyasini

Sedodol, 25 agustus 2012 bertepatan dengan hari raya ke -7 1433H yang bertempat di kediaman mbak Zumroti, Forum Komunikasi Mahasantri Beasiswa (FKMB) Alyasini dengan semangat meriah mengadakan kegiatan Halal Bi Halal dan Reuni FKMB. Acara yang bertemekan “Menjalin Ukhuwah, Wujudkan Kebersamaan” ini berhasil dilaksanakan dengan lancar dan semarak dengan hadirnya para pengasuh yang diwakili oleh Gus Muhammad Ghozali, Neng Rizka, dan juga Neng Kholidatul Husna (Neng Iit) serta peserta mahasantri berprestasi Alyasini yang berjumlah sekitar 33 orang.  Jumlah ini diluar dugaan panitia yang semula hanya menerima konfirmasi 20 peserta.

Kegiatan HBH dan Reuni yang diketuai oleh ketua FKMB yakni Irsyadur Rafiq, dimulai dengan pembukaan oleh MC (Surotul Ilmiyah), yang kemudian dilanjutkan dengan materi khusus oleh mas Muhammad Ghozali (mas mamad). Materi yang disampaikan oleh beliau dengan topik pemberdayaan alumni ini sangat meningkatkan minat peserta yang hadir terutama untuk meningkatkan jiwa entrepreneurship santri. Untuk memperkuat jaringan komunikasi dan eksistansi FKMB , mas mamad menghimbau pada pengurus FKMB untuk memberdayakan website FKMB <beasiswaalyasini.webs.com>  yang telah dibuat oleh beliau. Beliau juga menegaskan bahwa pentingnya organisasi ini untuk menjembatani antara pengasuh dan mahasantri beasiswa Alyasini yang diharapkan mampu meningkatkan kualitas pondok pesantren Alyasini ketika nantinya alumni mahasantri besaiswa terjun dalam pengabdian di Ponpes.

Setelah Gus Mamad meberikan materi mengenai pemberdayaan alumni, materi yang kedua yang tidak kalah pentingnya disampaikan oleh Bapak Irham Zuhdi yang telah menyempatkan hadir. Konsep pengabdian merupakan materi pokok yang disampaikan beliau. Dalam kesempatan ini beliau menyampaikan bahwa mengabdi ke pesantren pada hakikatnya adalah panggilan hati yang bukan hanya memenuhi peraturan. Sehingga diharapkan pangabdian merupakan sesuatu yang mulia yang dilakukan dengan ikhlas dan bukan sebagai beban. Sebagaimana yang diharapkan pengasuh, pengabdian dilakukan untuk pengembangan kualitas SDM pesantren.

Adanya isu-isu yang menyatakan bahwa kurang maksimalnya pemberdayaan alumni mahasantri beasiswa yang mengabdi di pesantren, patut diperhatikan. Saat ini pengabdian alumni mahasantri beasiswa memang kurang begitu maksimal, sehingga bagi anggota FKMB yang akan segera lulus diharapkan dapat melapor status kemahasiswaannya sebelum bulan September pada ketua FKMB (red: Irsyadur Rafiq), sehingga nantinya memperoleh penempatan pengabdian yang sesuai di pesantren. Dan disinilah peran FKMB sebenarnya, nantinya diharapkan dapat memberikan solusi mengenai pengabdian yang efektif.  Bapak Irham Zuhdi menyatakan bahwa Pengabdian dapat dilakukan di pesantren asal, atau pun di luar (dengan izin pengasuh dan Kemenag untuk PBSB), atau pun ditugaskan oleh kemenag secara khusus. Beliau juga menjelaskan bahwa di Alyasini sendiri, Pengabdian dapat dilakukan dengan : Menjadi staf di lembaga, Mengelola unit usaha, pengembangan SDM pesantren (misalnya menjadi pendamping dalam bidang eks-kul, maupun organisasi pesantren), juga dapat berupa mengembangkn lembaga LSM, LPM.  Alumni mahasantri yang mengabdi berhak untuk memperoleh fasilitas tempat tinggal, namun juga tidak menutup kemungkinan jika secara mendesak alumni tersebut harus berangkat dari rumah.  Harapan dari pegasuh sendiri agar alumni mahasantri yang mengabdi dapat tinggal di pesantren dan ikut mendampingi kegiatan santri di asrama minimal selama 3 hari.

Dalam kesempatan ini,  Neng Iit juga menyampaikan pesan-pesan pengasuh diantaranya:
* Alumni yang besiswa, diharapkan menjadi orang yang bermanfaat (red: mengabdi) atas keikhlasan. Dan juga bisa mendampingi santri di pesantren,
* Yang masih mahasiswa, diharapkan memperlihatkan kesantrian yang bisa mewarnai bukan diwarnai,
* Anggota FKMB dan yang lain diharapkan saling berbagi akses bidang keahlian (peluang kerja) pada yang lain,
* Pengiriman nilai akademik sebaiknya dilakukan secara berkala pada pengasuh,
* Pesan terakhir yang sangat penting adalah, Harus berhati2 mencari jodoh yaaaa. Kalau bisa harus santri, bisa diajak berjuang bersama dengan agama yang bagus.

Setelah serangkaian pembahasan mengenai posisi FKMB serta peranannya di pesantren, selanjutnya acara HBH dan reuni dilanjutkan dengan tahlil bersama dan ramah tamah serta dilanjutkan dengan sharing bersama perombakan kepengurusan FKMB dan penentuan reuni tahun 2013. Adapun dalam diskusi tersebut, diperoleh beberapa keputusan diantaranya:
§        Susunan Kepengurusan FKMB
Pelindung : Pengasuh
Penasehat : Ketua Yayasan
Penanggungjawab : Ir. M. Irham Zuhdi, MPd
Pembina : Mas Muhammad Ghozali SE
Ketua: Irsyadur Rafiq
Wakil : Mambaul Hikmah
Sekertaris : Adibah
Bendahara : Zumroti
PSDM : Surotul Ilmiyah
Kominfo : Umar Setiawan
§        HBH dan Reuni FKMB 2013
Tempat : Rumah Irsyadur Rafiq, Desa Ketangirejo Kejayan Pasuruan
Waktu : 6 Syawal
Ketua Panitia : Fatkhur Rozi
Harapan terbesar dari kegiatan yang diharapkan dilaksanakan secara rutin ini adalah terjalinnya komunikasi efektif antar anggota FKMB dan juga kepada pengasuh, sebagai suatu bentuk ukhuwah dan kebersamaan yang memiliki kesatuan visi yang sama yaitu memajukan Alyasini tercinta. Semangat kebersamaan pun masih terasa hingga acara di akhiri dengan penutup oleh ketua FKMB. Semoga kebersamaan ini akan terus berlanjut untuk FKMB dan Alyasini lebih baik. Amiin3x….
**Salam Satu Hati Keluarga FKMB Alyasini ^-^