Selasa, 25 September 2012
Sabtu, 22 September 2012
Huwannur (Mayada)
Huwan nuruu yahdil hairiina dhiyauhu
wafil hasri zhillul mursaliina liwauhu
talaqqo minal ghoibil mujarrodi hikmata
biha amthorot fiil hoofiqoini samaauhu
Huwan nuruu yahdil hairiina dhiyauhu
wafil hasri zhillul mursaliina liwauhu
talaqqo minal ghoibil mujarrodi hikmata
biha amthorot fiil hoofiqoini samaauhu
biha amthorot fiil hoofiqoini samaauhu
wa mashudu ahlil haqqi mihu lathooifun
tuhobbiru annal majda wassyaawasyaauhu
falillahi ma lil'aini min mashadijtilaa
ya'izzu 'alaa ahlil hijabij tilauhu
Huwan nuruu yahdil hairiina dhiyauhu
wafil hasri zhillul mursaliina liwauhu
talaqqo minal ghoibil mujarrodi hikmata
biha amthorot fiil khoofiqoini samaauhu
aya nazihan 'annii wamaskanuhul hasaa
ajib man malaa kullan nawaahii nidahu
ajib man tawallalahul hawaa fiika wamdhi fii
fuadiiya maa yahwaal hawaa wa yasaauhu
Huwan nuruu yahdil hairiina dhiyauhu
wafil hasri zhillul mursaliina liwauhu
talaqqo minal ghoibil mujarrodi hikmata
biha amthorot fiil khoofiqoini samaauhu
Faya robbi syarrifni birukyati sayyidi
Wa ajib shodal qolbiyl katsiri Shodauhu
alaihi sholatullahi ma habbatisshoba
wama athrobal hadi fathoba hidauhu
Huwan nuruu yahdil hairiina dhiyauhu
wafil hasri zhillul mursaliina liwauhu
talaqqo minal ghoibil mujarrodi hikmata
biha amthorot fiil khoofiqoini samaauhu
Jumat, 21 September 2012
Bioetanol Berbasis Kulit Ubi Kayu
Kebutuhan energi baik fosil maupun non fosil dari tahun ke tahun semakin meningkat. Peningkatan ini sejalan dengan meningkatnya laju pertumbuhan ekonomi, laju pertumbuhan penduduk, dan pesatnya perkembangan sektor industri. Energi dari bahan tambang seperti minyak bumi dan gas bumi khususnya di Indonesia diperkirakan akan habis dalam waktu yang relatif singkat. Sehingga Indonesia harus segera mencari sumber energi yang dapat diperbaharui (Renewable Energy) untuk memenuhi kebutuhan energi di masa depan.
Bioetanol (C2H5OH)
merupakan salah satu bahan bakar nabati yang saat ini menjadi primadona untuk
menggantikan minyak bumi. Minyak bumi saat ini harganya semakin meningkat,
selain kurang ramah lingkungan juga termasuk sumber daya yang tidak dapat
diperbaharui. Bioetanol mempunyai kelebihan selain ramah lingkungan,
penggunaannya sebagai campuran BBM terbukti dapat mengurangi emisi karbon
monoksida dan asap lainnya dari kendaraan. Saat ini bioetanol juga bisa
dijadikan pengganti bahan bakar minyak tanah. Selain hemat, pembuatannya dapat
dilakukan di rumah dengan mudah, sehingga lebih ekonomis dibandingkan
menggunakan minyak tanah.
Ubi kayu merupakan salah satu komoditi
pertanian yang tersebar di berbagai wilayah. Indonesia.
Pemanfaatan limbah kulit ubi kayu yang cukup potensial dan dapat memenuhi
kebutuhan masyarakat yaitu sebagai bahan baku pembuatan bioetanol. Dalam hal
ini yang dimanfaatkan adalah kulit ubi kayu bagian dalam yang berwarna putih.
Kulit ubi kayu ini memiliki kandungan karbohidrat yang tinggi. Presentase
jumlah limbah kulit bagian luar sebesar 0,5-2% dari berat total ubi kayu segar
dan limbah kulit bagian dalam sebesar
8-15%. Kulit ubi kayu bagian dalam mengandung pati yang dapat dihidrolisis
menjadi gula dan diproses menjadi bioetanol.
Untuk melakukan
hidrolisis gula pada pati kulit ubi kayu, perlu ditambahkan enzim atau dengan
bantuan asam. Umumnya rendemen bioetanol yang diperoleh cukup rendah. Hal
inilah yang mendorong perlunya peningkatan rendemen bioetanol berbasis kulit
ubi kayu melalui penggunaan konsorsium enzim.
Adapun penelitian yang dilakukan membutuhkan metode
berikut:
- Pembuatan Tepung Kulit Ubi kayu
Terlebih dahulu, kulit ubi kayu dipisahkan
dari kulit paling luar. Setelah itu, kulit direndam dalam air selama 30 menit,
lalu tiriskan. Kemudian, kulit ubi kayu tersebut digiling dengan menggunakan
mesin penggiling hingga menjadi butiran-butiran tepung. Tepung yang dihasilkan
kemudian dianalisa untuk mengetahui karakteristik bahan baku yang meliputi
analisis kadar air, lemak, protein, pati, abu, selulosa, hemiselulosa dan serat
kasar (AOAC 2005).
- Hidrolisis Fermentasi Terpisah
Proses hidrolisis fermentasi terpisah meliputi tahap
likuifikasi, sakarifikasi dan fermentasi, dimana setiap tahapan dilakukan
secara terpisah pada kondisi dan wadah yang berbeda. Proses likuifikasi
dilakukan secara enzimatis dengan α-amilase selama 1 jam pada suhu 90 oC, pH 4,8. Tepung ubi
kayu dilarutkan dengan akuades sampai konsentrasi 30 % (b/v) kemudian
dipanaskan sampai suhu 90 oC sehingga terbentuk bubur kental. Untuk mencairkan
bubur, ditambahkan enzim α-amilase dengan konsentrasi 1 ml/kg pati. Substrat hasil
likuifikasi diatur pH-nya menjadi 5,0 dengan menambahkan HCl 1 N. Setelah
likuifikasi, dilakukan proses sakarifikasi secara enzimatis menggunakan AMG,
xilanase dan selulase dengan konsentrasi 1,2 ml/kg pati selama 48 jam pada pH
4,8. Hasil proses sakarifikasi selanjutnya dipergunakan sebagai substrat
fermentasi. Substrat terlebih dahulu diatur pH-nya menjadi 5,0 menggunakan HCl
1 N dan ditambahkan nutrisi berupa NPK dan NH2(S0)4 masing-masing dengan
konsentrasi 0,04 % (b/v) dan 0,15 % (b/v), kemudian kultur S.cerevisiae
ditambahkan 10 % (v/v). Setelah itu, diukur kadar ethanolnya dengan menggunakan
Gas Chromatography. Lalu untuk memisahkan ethanol dengan cairan
lainnya, dilakukan destilasi sederhana.
PKM
Penelitian
(Nur Astri Mufthia S., Lisa
Silvia, Nur Faizah, Mulia Wita, Ahmad Muhaimin)
Rabu, 29 Agustus 2012
Press release Halal Bi Halal dan Reuni FKMB Alyasini
Sedodol,
25 agustus 2012 bertepatan dengan hari raya ke -7 1433H yang bertempat di
kediaman mbak Zumroti, Forum Komunikasi Mahasantri Beasiswa (FKMB) Alyasini
dengan semangat meriah mengadakan kegiatan Halal Bi Halal dan Reuni FKMB. Acara
yang bertemekan “Menjalin Ukhuwah, Wujudkan Kebersamaan” ini berhasil
dilaksanakan dengan lancar dan semarak dengan hadirnya para pengasuh yang
diwakili oleh Gus Muhammad Ghozali, Neng Rizka, dan juga Neng Kholidatul Husna
(Neng Iit) serta peserta mahasantri berprestasi Alyasini yang berjumlah sekitar
33 orang. Jumlah ini diluar dugaan panitia yang semula hanya menerima
konfirmasi 20 peserta.
Kegiatan
HBH dan Reuni yang diketuai oleh ketua FKMB yakni Irsyadur Rafiq, dimulai
dengan pembukaan oleh MC (Surotul Ilmiyah), yang kemudian dilanjutkan dengan
materi khusus oleh mas Muhammad Ghozali (mas mamad). Materi yang disampaikan
oleh beliau dengan topik pemberdayaan alumni ini sangat meningkatkan minat
peserta yang hadir terutama untuk meningkatkan jiwa entrepreneurship santri.
Untuk memperkuat jaringan komunikasi dan eksistansi FKMB , mas mamad menghimbau
pada pengurus FKMB untuk memberdayakan website FKMB <beasiswaalyasini.webs.com>
yang telah dibuat oleh beliau. Beliau juga menegaskan bahwa pentingnya
organisasi ini untuk menjembatani antara pengasuh dan mahasantri beasiswa
Alyasini yang diharapkan mampu meningkatkan kualitas pondok pesantren Alyasini
ketika nantinya alumni mahasantri besaiswa terjun dalam pengabdian di Ponpes.
Setelah Gus Mamad meberikan materi mengenai pemberdayaan alumni, materi yang kedua yang tidak kalah pentingnya disampaikan oleh Bapak Irham Zuhdi yang telah menyempatkan hadir. Konsep pengabdian merupakan materi pokok yang disampaikan beliau. Dalam kesempatan ini beliau menyampaikan bahwa mengabdi ke pesantren pada hakikatnya adalah panggilan hati yang bukan hanya memenuhi peraturan. Sehingga diharapkan pangabdian merupakan sesuatu yang mulia yang dilakukan dengan ikhlas dan bukan sebagai beban. Sebagaimana yang diharapkan pengasuh, pengabdian dilakukan untuk pengembangan kualitas SDM pesantren.
Adanya isu-isu yang menyatakan bahwa kurang maksimalnya pemberdayaan alumni mahasantri beasiswa yang mengabdi di pesantren, patut diperhatikan. Saat ini pengabdian alumni mahasantri beasiswa memang kurang begitu maksimal, sehingga bagi anggota FKMB yang akan segera lulus diharapkan dapat melapor status kemahasiswaannya sebelum bulan September pada ketua FKMB (red: Irsyadur Rafiq), sehingga nantinya memperoleh penempatan pengabdian yang sesuai di pesantren. Dan disinilah peran FKMB sebenarnya, nantinya diharapkan dapat memberikan solusi mengenai pengabdian yang efektif. Bapak Irham Zuhdi menyatakan bahwa Pengabdian dapat dilakukan di pesantren asal, atau pun di luar (dengan izin pengasuh dan Kemenag untuk PBSB), atau pun ditugaskan oleh kemenag secara khusus. Beliau juga menjelaskan bahwa di Alyasini sendiri, Pengabdian dapat dilakukan dengan : Menjadi staf di lembaga, Mengelola unit usaha, pengembangan SDM pesantren (misalnya menjadi pendamping dalam bidang eks-kul, maupun organisasi pesantren), juga dapat berupa mengembangkn lembaga LSM, LPM. Alumni mahasantri yang mengabdi berhak untuk memperoleh fasilitas tempat tinggal, namun juga tidak menutup kemungkinan jika secara mendesak alumni tersebut harus berangkat dari rumah. Harapan dari pegasuh sendiri agar alumni mahasantri yang mengabdi dapat tinggal di pesantren dan ikut mendampingi kegiatan santri di asrama minimal selama 3 hari.
Dalam
kesempatan ini, Neng Iit juga menyampaikan pesan-pesan pengasuh
diantaranya:
Setelah serangkaian pembahasan mengenai posisi FKMB serta peranannya di pesantren, selanjutnya acara HBH dan reuni dilanjutkan dengan tahlil bersama dan ramah tamah serta dilanjutkan dengan sharing bersama perombakan kepengurusan FKMB dan penentuan reuni tahun 2013. Adapun dalam diskusi tersebut, diperoleh beberapa keputusan diantaranya:
§
Susunan Kepengurusan FKMB
Pelindung
: Pengasuh
Penasehat
: Ketua Yayasan
Penanggungjawab
: Ir. M. Irham Zuhdi, MPd
Pembina
: Mas Muhammad Ghozali SE
Ketua:
Irsyadur Rafiq
Wakil
: Mambaul Hikmah
Sekertaris
: Adibah
Bendahara
: Zumroti
PSDM
: Surotul Ilmiyah
Kominfo
: Umar Setiawan
§
HBH dan Reuni FKMB 2013
Tempat
: Rumah Irsyadur Rafiq, Desa Ketangirejo Kejayan Pasuruan
Waktu
: 6 Syawal
Ketua
Panitia : Fatkhur Rozi
Harapan
terbesar dari kegiatan yang diharapkan dilaksanakan secara rutin ini adalah
terjalinnya komunikasi efektif antar anggota FKMB dan juga kepada pengasuh,
sebagai suatu bentuk ukhuwah dan kebersamaan yang memiliki kesatuan visi yang
sama yaitu memajukan Alyasini tercinta. Semangat kebersamaan pun masih terasa hingga
acara di akhiri dengan penutup oleh ketua FKMB. Semoga kebersamaan ini akan
terus berlanjut untuk FKMB dan Alyasini lebih baik. Amiin3x….
**Salam
Satu Hati Keluarga FKMB Alyasini ^-^
Rabu, 25 Juli 2012
Gula Tebu #Session 1
Banyaknya permasalahan di Pabrik Gula (PG)
terutama masalah menejemen yang kurang baik akan sangat mempengaruhi pencapaian
hasil gula yang diperoleh. Sebaran luas lahan milik PG dari total persediaan
lahan tebu di Indonesia
banyak dikuasai oleh petani (rakyat). Besarnya lahan yang dimiliki oleh petani
akan sangat mempengaruhi keberlangsungan produksi gula. Apabila dalam
perdagangan konsumen adalah raja, maka dalam produksi gula, petani yang
merupakan raja. Hal ini karena PG sangat
bergantung dengan pasokan tebu dari petani.
Rendemen merupakan rasio antara output dengan
input yang termasuk hal sentral dalam pabrik gula. Adanya isu-isu bahwasannya
PG mempermainkan rendemen petani lantaran kecilnya rendemen yang diberikan
kepada petani perlu ditelusuri kebenarannya. Rendemen akan menjadi dasar pembagian hasil gula dan keuntungan yang
diperoleh petani setelah digiling. Budidaya
tebu pra-panen menjadi factor yang sangat mempengaruhi
tinggi rendahnya nilai rendemen yang diperoleh. Karena pada prinsipnya gula
bukan dibuat di pabrik gula, namun di ladang tebu. Pada dasarnya, untuk
menghitung rendemen pabrik gula secara individu setiap petani yang datang untuk
menggiling tebunya, tak perlu menunggu hasil gula yang diperoleh setelah
digiling. Namun rendemen individu ini dapat diketahui melalui perhitungan
dengan mencari nilai persen brix dan persen polarisasi dari nira perahan
pertama pada stasiun penggilingan. Nilai ini yang selanjutnya dapat digunakan
untuk memperoleh nilai rendemen individu.
Rendahnya pemahaman petani mengenai
aspek budidaya tebu yang nantinya akan mempengaruhi gula yang diperoleh. Tak bisa dielakkan lagi kebutuhan tebu pabrik
gula di Indonesia sangat bergantung pada pasokan dari petani. Artinya apabila
rendemen petani rendah, maka secara otomatis hasil gula yang diperoleh masih
rendah. Untuk memenuhi kekurangan pasokan gula dalam negri, pemerintah
terpaksa mengimpor gula dari luar. Pentingnya mencari cara agar dapat
menghindari pasokan impor gula ini tentu sangat diperlukan. Setidaknya pasokan
impor dapat dikurangi secara signifikan apabila seluruh pabrik gula kompak
mengadakan program peningkatan rendemen dan efisiensi produksinya.
Karena pada dasarnya gula diciptakan di
ladang tebu bukan di pabrik, tentu factor ini sangat tinggi pengaruhnya.
Rendemen petani yang ada dari fakta PG Wonolangan probolinggo hanya memiliki
nilai rata-rata 6 hingga di bawah 8. Sementara hasil rendemen tebu yang
dihasilkan oleh pabrik gula sendiri dapat mencapai angka 9. Perbedaan rendemen
ini tentunya mengakibatkan kesenjangan social antara petani dan pabrik gula.
Kebutuhan bahan baku potensial berada di tangan petani, maka menjadi malapetaka
besar bagi pabrik gula apabila petani-petani ini tidak lagi menginginkan
menanam tebu lantaran rendemen yang diberikan PG sangat kecil atau pun tanam
komoditi lainnya lebih menguntungkan. Padahal secara nyata memang cara budidaya
PG dan petani sangat berbeda yang membuat perbedaan jauh nilai rendemen ini. Dalam
pabrik gula, secara structural memiliki bagian Litbang yang bertugas melakukan
penelitian dan pengembangan sehingga tebu yang diperoleh memenuhi syarat layak
tebang dan MBS.
Jaminan nilai rendemen minimum yang diberikan
pabrik gula kepada petani memang akan membantu efektifitas kinerja pabrik untuk
menjaga efisiensinya. Namun cara ini dinilai belum sepenuhnya efektif karena
pada kenyataannya petani masih belum fair menyetorkan tebunya dalam keadaan MBS
(Manis, Bersih, dan Segar). Tebu yang dikirim ke pabrik haruslah tebu yang
bersih. Bukan tercampur dengan pucuk-pucuknya, tanah-tanahnya, dan
anakan-anakannya. Tebu itu juga tebu yang segar, yang fresh from the field. Tebu dikatakan
segar bila tenggang waktu tebu tersebut ditebang sampai digiling tidak lebih
dari 36 jam. Dan yang paling penting,
tebu yang dikirim ke pabrik adalah tebu yang sudah cukup manisnya. Jangan
menebang tebu sebelum dipastikan (diperiksa dengan alat pengukur) bahwa tebu
tersebut sudah matang kadar gulanya.
Masih banyaknya petani yang menyerahkan tebunya untuk digiling dalam
keadaan kotor dan mementingkan berat tebu dengan mengikutkan pucukan bahkan
sampai akar-akarnya bukan saja malah menurunkan nilai rendemen gula yang
dihasilkan lantaran gula yang digiling banyak ikut ke dalam ampas tebu. Masalah
ini menunjukan bahwa belum fahamnya petani mengenai apa sebenarnya rendemen dan
cara menjaganya. Maka lantas apa kontribusi Litbang secara nyata untuk petani??
Tentu tak hanya penting untuk memberikan subsidi bibit unggul saja.
++++Go to Session 2++++
Langganan:
Postingan (Atom)




